rss

Recent Posts

Recent Comments

Salam Lestari...

Selasa, 08 Desember 2009

Blog Hebat Juga Diawali Dengan Sepi Pembaca

Judul yang saya pilih di atas memang benar adanya. Blog sehebat apapun tidak serta merta mendapat ratusan bahkan ribuan pembaca di setiap harinya. Dalam hal ini saya sangat sependapat dengan nasehat klise, bahwa semua butuh perjuangan. Tidak terkecuali di dunia blog.

Ada pepatah mengatakan, untuk melakukan sebuah perjalanan yang menghabiskan seribu langkah, hal yang paling dibutuhkan adalah langkah pertama. Tanpa memulai untuk segera melangkah, mustahil untuk sampai pada tujuan yang di inginkan. Segera berbuat, itulah kunci sukses. Saya kira anda juga sepakat tentang ini.

Yang kita butuhkan adalah endless repetition, yaitu pengulangan tanpa henti dan tanpa lelah untuk melakukan hal yang sama. Dalam dunia olah raga, kita pastinya pernah mendengar nama nama seperti Mohammad Ali, Maradona, dan lain lain. Untuk mencapai prestasi yang mengagumkan, mereka harus melakukan sesi latihan yang pada umumnya bersifat sama dan dilakukan secara berulang ulang. Tidak jauh beda dengan dunia olah raga, dunia blogger juga menuntut hal yang sama. Menulis dan terus menulis, berkreasi dan terus berkreasi, begitu seterusnya. Semakin sering kita melakukannya, semakin tinggi jam terbang kita di satu bidang, maka kita akan semakin memahami seluk beluknya. Ibaratnya seorang pendekar, semakin giat dia menempa diri, semakin tinggi ilmu bela dirinya.

Sebelum saya menutup tulisan saya ini, ijinkanlah saya nukilkan sebuah hadist Rosulullah. Dari hadist tersebutlah saya mendapat pencerahan untuk tetap semangat dalam berbuat sesuatu. Semoga ini juga bermanfaat buat kita semua, Amin..

Sebaik baik perbuatan adalah yang dilakukan seseorang secara terus menerus walaupun sedikit.

Salam Lestari…!!!



Read More......

Seandainya Aku Bisa

Teman baik bapakku
Putri bungsu cantiknya tuna rungu
Dia begitu dicintai
Dibelai mesra sepenuh hati

Aku tersentuh..
Menatap tulus rasa..

Seandainya
Ku bisa bahasa isyarat
Bahagia
Berbagi rasa bersahabat
Seandainya
Kubisa bahasa isyarat
Bahagia
Berbagi cinta bersahabat..

Itu adalah lirik lagu yang saya ikutkan dalam lyric competition kemarin. Alhamdulillah, masuk sepuluh besar favorit. Lagu tersebut saya ciptakan tahun 2005 dan belum di record. Semoga kedepan bisa merecordnya, Amin.

Pembuatan nada dan lirik dalam lagu di atas, berjalan bersamaan. Jadi gambaran kasarnya, saya melihat fenomena sederhana pada saat bapak kedatangan tamu. Mereka datang sekeluarga dan kebetulan memang teman baik bapak. Singkat cerita, setelah saya menyaksikan pemandangan syahdu tersebut, tidak lama kemudian saya keluar. Di saat saya berkesempatan mendapat pinjaman gitar, langsung genjrang genjreng sambil berhaha huhu. Dan jadilah sebuah lagu. Demikian gambaran singkat dari proses pembuatan lirik dan lagu seandainya aku bisa ini.

Salam Lestari…!!!


Read More......

Kamis, 03 Desember 2009

Kenapa Harus Merasa Bodoh..

Baru baru ini saya bertemu seorang teman. Kebetulan dia sudah membaca tulisan saya sebelum ini. Judulnya Saya Pernah Menjadi Pembicara Yang Bodoh. Kenapa harus merasa bodoh? Itu yang dilontarkan oleh teman saya.

Memang apa saja pertanyaannya kok menyimpulkan diri menjadi sosok yang bodoh? Itu lontaran lain dari teman saya, sebelum saya sempat menjelaskan semuanya. Masih ada beberapa lontaran lagi sebenarnya. Tapi kalau terus saya tulis, saya takut anda jenuh membacanya karena terlalu panjang.

Saya mulai dengan sebuah contoh kasus. Saat saya mengikuti pengajian, seminar, pelatihan, dan acara acara yang seperti itu, saya pernah merasa jenuh. Biasanya kejenuhan dimulai dari penilaian alam bawah sadar saya pada sosok pembicara. Entah itu tokoh agama, dosen, atau orang yang punya keahlian tertentu. Pada saat acara usai, seandainya ada satu dari audiens yang berani mengatakan kejenuhannya, apa kira kira reaksi pembicara? Sebagian besar mungkin memilih untuk mencari alasan. Atau cenderung menyayangkan audiens karena tidak konsentrasi.

Berbeda dengan itu, saya justru menyadari ketidak mampuan saya bukan dari orang lain. Saat saya merasakan tidak bisa membawa suasana yang segar, saat itulah saya merasa bodoh. Dari merasa bodoh saya mencoba untuk mencari cari alasan. Pada akhirnya toh tidak ada alasan kecuali pembenaran.

Ternyata menjadi apa saja itu membutuhkan sikap yang tangguh. Begitu juga dengan menjadi pembicara. Nah, kenangan cerita menjadi pembicara di LPME ESPOSE itu pada akhirnya mengantarkan saya untuk belajar kembali. Termasuk pada saat ini, pada saat saya memutuskan untuk membuat blog tamasyakata.com. Sikap seperti apa yang saya butuhkan untuk menjadi seorang blogger?

Salam Lestari…!!!






Read More......

Selasa, 01 Desember 2009

SWAPENKA Ini Hari..

Sepenggal cerita untuk Mbak Ninuk R. Raras..

Dari photo jaman dulu yang masih tersimpan manis di loker sekretariat, saya bisa membayangkan bagaimana Swapenka tempo dulu. Sastra masihlah gersang, belum ada taman di depannya. Sama sekali tandus. Yang ada hanya kerikil, bongkahan batu bata bekas pagar parkir yang dibongkar. Hanya ada beberapa tanaman yang sengaja di tanam di sana. Itupun berlomba dengan ilalang liar yang bisa jadi tidak diharapkan kehadirannya.

Tapi itu setelah Swapenka sudah ada sekretariatnya mbak. Saya nggak bisa membayangkan bagaimana keadaannya dulu, pas dijamannya mbak Ninuk. Ya, pernah juga sih mas Bambang cerita. Keluarga mas Anam juga pernah cerita. Mereka bilang, untuk mengadakan pertemuan saja orang orang terdahulu masih butuh menunggu ruang kelas kosong. Atau kalau nggak, ngobrol di kantin sastra, kadang juga di warung kopi di luar fakultas sastra. Sering juga mengadakan kunjungan dari satu kost ke kosan yang lain. Gerilya banget ya mbak..

Waktu terus bergulir, seiring langkah langkah kecil para pencinta alam yang tergabung dalam satu keteduhan, Swapenka. Semuanya berjalan berdampingan menuju ke arah dan harapan yang sama, kelestarian alam.

Bukan hanya sekretariat Swapenka yang berubah mbak. Bukan juga hanya fakultas sastra.. Jember juga berubah. Sebuah fenomena lokal di era yang global ini. Pagar fakultas sastra yang tadinya, barangkali di jaman mbak masih menggunakan pagar kawat berduri, sekarang sudah di pagar tembok tinggi mbak. Nggak bisa seperti dulu lagi, saat kita ada di dalam pelataran UKMF sastra, kita tidak bisa melihat apa gerangan yang terjadi di jalan jawa. Ada tembok setinggi dua meter yang setia menjaga pandangan kita agar tidak terlalu jauh menerawang. Begitu juga batas antara sastra dengan kampung jawa gang tujuh, tempat biasa anak anak Swapenka ngopi di warung Buk No. Sudah ada tembok yang berdiri tegak disana. Positifnya, sastra semakin bersih dari pembuangan sampah liar.

Ohya mbak, jalan jawa sekarang rame. Banyak para pedagang kaki lima disana, siang maupun malam. Kalau membandingkan dengan cerita mas Giri sih, jalan jawa sudah jauh berbeda. Kalau dilihat dari segi fisik, sastra dan sekitarnya sama sekali jauh dari yang dulu. Wajar memang. Tapi ada satu perkecualian mbak, yang membuat semua pada akhirnya tidak bisa dikatakan ‘wajar’. Sebuah perbedaan kecil tapi begitu bermakna.

Tahukah mbak bahwa seiring berlalunya waktu, di saat semuanya berbenah untuk berubah dan mempercantik diri, rasa persaudaraan di Swapenka sama sekali tidak berubah? Apakah mbak juga sudah mendengar kabar bahwa aroma perhatian di Swapenka masih tetap menyegarkan..?

Secara prestasi memang saya akui, Swapenka jauh tertinggal dengan OPA kota kota besar. Di dalam kota pun, Swapenka sedikit tertinggal dengan Organisasi Pencinta Alam yang lebih pro aktif di dunia sport. Entah itu panjat dinding, orad, dll. Tapi bukan berarti Swapenka tidak memiliki trofi apapun. Kita memang tidak punya wall climbing, tapi kita punya pemanjat. Barangkali Swapenka memang tidak memiliki perahu orad. Tapi itu tidak membuat adek-adeknya sampean pasif dikala ada kepanitiaan bersama OPA se Jember yang bikin acara seperti itu. Saya nggak bohong mbak, ada banyak trofi panjat dinding di Swapenka, meskipun itu berangkatnya ada yang secara personal. Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan mbak.. Hanya saja, saya ingin mbak mengerti kalau Swapenka itu luwes dengan perkembangan jaman, tapi masih menggenggam erat misi kelestarian alamnya.

Pelajaran yang bisa saya petik nih mbak, saya jadi tahu bahwa setiap pencinta alam bersaudara. Selama saya di Swapenka, nggak pernah tuh mbak, ada perasaan semacam persaingan, sukuisme, dll yang menuju ke arah tidak menyenangkan.

Wah, nggak terasa mbak, tulisane panjang banget, hehe..Sori. Yawes gitu deh mbak. Meskipun sekarang saya jarang maen ke Swapenka, tapi semua berjalan seindah dulu, jamannya saja yang beda. Adek adeknya sampean masih senang kumpul bareng, membuat perapian dan memainkan gitar. Lagu lagu tentang alam raya masih sering berkumandang disini mbak..Masih sering bikin acara entah itu hanya sekedar diskusi, berkebun, maupun acara acara bersama. Kapan kapan deh, saya akan cerita tentang tamasya band ke mbak.

Gitu dulu ya mbak Ninuk, makaciii…

Salam Lestari…!!!










Read More......

Mata Tamasya

UNTUK BUNGA


Apakah aku bisa

Melihatmu terluka

Ku tak bisa..

Apakah aku mampu

Membahagiakanmu

Ku tak tahu..


Chorus :

Jangan tatap aku bunga

Jangan Tanya tentang cinta

Sungguh kutak tahu

Bunga….


Reff :

Lihatlah itu bunga

Rumah kecil kita

Menanti engkau bunga

Merangkai cerita



Lihatlah itu bunga

Rumah kecil kita

Menunggu engkau bunga

Menghadirkan cinta


Aku butuh teman bicara sampai tua

Sampai salah satu dari kita ke surga

Semoga kita

Sampai……


Dari album ke dua tamasya band

Yang Bertitel, SAVE THE TREE #2

Dapatkan CD nya di GARASI RECORD

Atau hubungi : 03313479312.

Atau langsung pesan di blog ini.

Arsip Blog